BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Oktober 2010

XXVI. Mempertanyakan Doa Pemulihan bagi Bangsa Benny Hinn (2)

Mana yang Dikabulkan atau Ditolak Allah?

Seleksi yang diringkaskan dari berbagai fakta sejarah menjelang, selama, dan sesudah seminar doa pemulihan bagi bangsa Indonesia disusul KKR Benny Hinn di Ancol bisa memerikan masalah-masalah utama atau penting yang dihadapi bangsa Indonesia. Ada yang muncul dengan berbagai akibatnya, ada yang berhasil dipecahkan. Masalah-masalah utama ini mencakup masalah ekonomi,  bencana alam, politik, pemerintahan, perbankan, terorisme, separatisme, kriminalitas, dan lain-lain. Masalah-masalah utama  yang diseleksi ini dibatasi pada kurun 2004-2010.

Tahun 2004
  • 10/1:  Bom meledak di sebuah kafe di Palopo, Sulawesi, dan menewaskan 4 orang.
  • 9/9: Bom meledak di Kedutaan Besar Australia mengakibatkan 5 orang tewas, ratusan luka-luka, dan kerusakan beberapa gedung di sekitarnya.
  • 15/12:  Banjir di Amuntai, Kalimantan Selatan, mengakibatkan 200.000 orang menjadi korban.
  • 26/12: Tsunami di ujung utara Sumatra mengakibatkan lebih dari 220.000 jiwa hilang atau meninggal dunia.
Tahun 2005
  • 2/2: Gempa 5,2 SR di Garut, Jawa Barat, merobohkan puluhan rumah dan merusakkan ratusan rumah lainnya.
  • 16/2: Transparency International Indonesia menyatakan Jakarta kota paling korup di Indonesia.
  • 21/2: Longsor sampah Leuwigajah menimbulkan korban 94 orang, sekitar 67 tewas tertimbun.
  • 3/3: Abu Bakar Baasyir, terdakwa konspirasi pemboman Bali 2002, dihukum penjara 2,5 tahun tapi dibebaskan 2006.
  • 21/3: Dua bom meledak di Ambon, Maluku, mengakibatkan 13 orang luka-luka.
  • 28/3: Gempa di Sibolga, Sumatra Utara; lebih dari 1.000 orang tewas.
  • 11/4: Mantan Gubernur Aceh, Abdullah Puteh, divonis hukum 10 tahun penjara dan denda Rp 500 juta.
  • 28/5: Dua ledakan bom di Pasar Sentral Tentena, Tentena, Poso; sekitar 20 orang tewas.
  • 22/6: Tiga mantan direktur Bank Indonesia – Heru Supraptomo, Hendro Budyanto, dan Paul Sutopo – dipenjarakan 15 tahun karena kasus korupsi lebih dari Rp 2 triliun.
  • 2/7: Kepolisian Indonesia menahan lagi 24 orang yang diduga terlibat Bom Bali 2002.
  • 8/7: Kecelakaan KM Digoel di Laut Arafura; sekitar 84 orang tewas, 100-an hilang.
  • 17/7: Tercapai kesepakatan damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia.
  • 15/8: GAM secara resmi berakhir.
  • 1/10: Tiga bom bunuh diri meledak di Bali; sekitar 22 orang tewas, 200 luka-luka.
  • 9/11: Dr. Azahari, buronan teroris dari Malaysia, tewas.
  • 9/12: 55 orang meninggal dunia karena kelaparan di Kabupaten Yahukimo, Papua; kelaparan mulai 11/11.
  • 31/12: Ledakan bom di pasar kota Palu; 8 orang tewas, 45 luka-luka.
Jadi, dua tahun sebelum Benny Hinn KKR di Ancol dan Doa Pemulihan bagi Bangsa Indonesia 2006, Indonesia sudah menghadapi berbagai masalah. Ada masalah terorisme (seperti pemboman); bencana alam (seperti tsunami dan gempa); bencana alam atau buatan manusia (seperti banjir, longsor sampah, dan kelaparan); ekonomi dan perbankan (seperti korupsi); dan kecelakaan (seperti kecelakaan laut).

Apakah semuanya atau sebagian ikut didoakan dalam Doa Pemulihan bagi Bangsa Indonesia di Jakarta 23 Maret 2006? Atau apakah ada masalah-masalah utama lainnya yang tidak disebutkan dalam daftar tadi yang juga dibawakan dalam doa pemulihan itu?  Kalau memang begitu, Tuhan, sesuai kehendak-Nya, bisa mengabulkan atau menolak mengabulkan doa pemulihan itu. Hanya waktu sesudah doa pemulihan itulah yang akan menyingkapkan apakah doa itu dikabulkan atau tidak. Untuk itu, kita perlu menyimak berbagai peristiwa penting lain antara tahun 2006 dan 2010.

Tahun 2006
  • 1/1: Banjir bandang menewaskan 63 orang di Jember, Jawa Timur.
  • 7/2: Said Agil, mantan Menteri Agama Indonesia, divonis 5 tahun penjara karena kasus korupsi.
  • 7/3: Komisi Nasional Perempuan menyatakan terjadi peningkatan kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun 2005, yaitu sebanyak 82 persen, lebih tinggi dari tahun 2004.
  • 16/3: Tiga anggota polisi dan seorang anggota intel TNI tewas, puluhan luka-luka akibat bentrokan terkait demonstrasi penolakan PT Freeport Indonesia di depan Universitas Cenderawasih, Papua.
  • 20/4: Sekitar 16 orang tewas dalam banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.
  • 29/4: Dua tersangka teroris dari kelompok Noordin M. Top tewas; dua lainnya ditangkap.
  • 7/5: Gempa bumi Yogyakarta dan sekitarnya di Jawa; 6.000 orang meninggal dunia.
  • 13/5: Semburan lumpur panas di Kecamatan Porong Sidoardjo, Jawa Timur, tidak terkendali; luapan panas sudah merendam 45 hektar sawah dan tambak, pemukiman penduduk di tiga desa, tujuh pabrik, dan sebagian jalan tol. Makin banyak penduduk mengungsi.
  • 14/5: Abu Bakar Baasyir dibebaskan dari penjara.
  • 20/5: Banjir dan longsor di Sulawesi Selatan; beberapa kabupaten terisolasi, sekitar 38 orang tewas, puluhan lainnya hilang.
  • 17/7: Tsunami karena gempa bawah laut menewaskan lebih dari 668 orang, 287 hilang, 74.100 orang kehilangan tempat tinggal di bagian selatan Jawa.
  • 22/7: Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu dieksekusi mati karena kerusuhan Poso, kontroversial dan ditentang luas.
  • 2/10: Asap dan abu hutan-hutan yang dibakar di Indonesia menutup bagian barat Indonesia, menyebabkan kualitas udara di Singapura dan Malaysia memburuk.
  • 12/10: Wabah penyakit chikunguya ditemukan menjangkiti sekitar 117 orang di Depok.
  • 16/10: Pendeta Iwanto Kongkoli, MTh, Sekretaris Umum Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST), tewas ditembak orang tidak dikenal di Palu.
  • 11/11: Bom meledak di sebuah restoran A&W di Jakarta; seorang lelaki terluka.
  • 22/11: Pipa gas Pertamina  di bawah luberan lumpur Lapindo Brantas di Porong Sidoardjo meledak disusul jebolnya sejumlah titik tanggul penahan lumpur; 5 orang tewas, belasan luka bakar cukup parah. Kobaran api yang sangat besar menyala di titik ledakan dekat Km 38 Jalan Tol Porong-Gempol.
Sebelum Doa Pemulihan bagi Bangsa Indonesia diadakan 23 Maret 2006, apa masalah-masalah yang dihadapi Indonesia sampai dengan 20 April? Masalah bencana alam/buatan manusia (banjir bandang); ekonomi dan perbankan (korupsi); dan kekerasan (kekerasan terhadap perempuan dan bentrokan fisik).

Lalu, masalah-masalah utama apakah yang timbul di Indonesia tahun 2006 sesudah tanggal doa pemulihan itu (23/3) dan KKR Hinn (24-26/3)? Bencana alam/buatan manusia (banjir bandang, tanah longsor, gempa bumi dan dalam laut, tsunami, semburan lumpur panas, asap dan abu, dan ledakan pipa gas); terorisme (pelakunya ditembak mati, ditangkap, dibebaskan dari penjara sementara seorang pendeta ditembak mati); hukum (hukuman mati yang kontroversial); dan kesehatan (wabah chikunguya).

Tiga dari masalah utama menjelang Doa Pemulihan bagi Bangsa Indonesia berlanjut sesudah doa itu. Itulah masalah terorisme (2005),  bencana alam/buatan manusia dan ekonomi, dan perbankan (2006).  Masalah-masalah lain yang dihadapi bangsa Indonesia tahun 2006  adalah masalah hukum dan kesehatan.

Ada masalah-masalah khusus yang bisa mengganggu rasa solidaritas atau keadilan orang Kristen. Pertama, kontroversi hukuman mati yang dijatuhkan pada Tibo, da Silva, dan Riwu, ketiga-tiganya penganut Kristen. Kedua, terbunuhnya Pendeta Kongkoli, boleh jadi seorang korban tidak berdosa dari teorisme. Ketiga, pembebasan Abu Bakar Baasyir, barangkali terlalu cepat dilepaskan.

Apakah semua masalah tadi ikut didoakan dalam Doa Pemulihan bagi Bangsa Indonesia? Kalau memang demikian, kita menemukan beberapa pokok. Pertama, tidak ada pemulihan bagi bangsa Indonesia untuk tahun 2006. Kedua, kalau orang-orang Kristen seperti ketiga terpidana mati itu dan seorang pendeta ikut didoakan dalam doa pemulihan itu, mengapa mereka berempat harus mati dengan cara demikian? Ketiga, kalau doa pemulihan itu mencakup permohonan agar Indonesia bebas dari terorisme, pembunuhan dan penangkapan beberapa orang teroris barangkali adalah salah satu tanggapan Tuhan atas doa pemulihan itu. Tapi mengapa Abu Bakar Baasyir, seorang tokoh yang diketahui berkaitan dengan terorisme,  dibebaskan?

Bisa saja semua atau sebagian masalah utama tadi tidak masuk dalam agenda doa pemulihan itu. Akibatnya masalah-masalah tadi atau sebagian muncul atau berulang.

Tahun 2007
  • 1/1: Adam Air Penerbangan 574 hilang misterius dengan seluruh penumpang dan awaknya. Dilaporkan, beberapa orang pendeta Kristen ada dalam pesawat terbang itu.
  • 1/2: Banjir di Jakarta, lebih dari 80 orang tewas, ratusan ribu mengungsi.
  • 22/2: Sekitar 22 tewas sesudah KM Lavina dari Tanjung Priok, Jakarta ke Bangka dengan 291 penumpang terbakar di Selat Sunda.
  • 25/2:  4 orang  yang tengah menginvestigasi bangkai KM Lavina tenggelam dan tewas.
Tahun 2008
  • 9/11: Amrozi, Ali Gufron, dan Imam Samudra, tiga terpidana mati Bom Bali 2002, dieksekusi.
Masalah-masalah utama yang dihadapi bangsa Indonesia untuk tahun 2007 dan 2008 merupakan lanjutan beberapa masalah di masa lampau. Pertama, bencana alam/buatan manusia (banjir); kedua, terorisme (eksekusi tiga terpidana mati Bom Bali 2002); dan, ketiga, kecelakaan (pesawat terbang, kapal). Kalau terorisme di Indonesia ikut didoakan dalam doa pemulihan itu, doa itu barangkali dikabulkan Tuhan dua tahun sesudah doa pemulihan tahun 2006. Tapi kedua masalah utama lain yang jelas adalah lanjutan dari masalah utama yang sama dari tahun-tahun sebelumnya, entah didoakan entah tidak dalam doa pemulihan itu, tidak berakhir. Jadi, Doa Pemulihan bagi Bangsa Indonesia 2006 itu boleh dibilang tidak manjur 100 persen.

Penduduk Miskin di Indonesia 2007- 2009

Masalah utama lain yang dihadapi bangsa Indonesia adalah kemisiknan. Ada lebih banyak daerah miskin dibanding daerah kaya di Indonesia. Ini suatu hasil pengamatan berdasarkan data statistik dari berbagai sumber, terutama dari Badan Pusat Statistik (BPS) di Jakarta.

Data BPS untuk Maret 2007 menyatakan ada 37.168.300 atau 16,58% penduduk Indonesia yang masih hidup miskin. Daerah-daerah manakah yang penduduk miskinnya cukup menonjol? BPS merinci 12 provinsi yang tingkat kemiskinan penduduknya  relatif tinggi dan 6 provinsi yang tingkat kemiskinan penduduknya relatif rendah. Jumlah persentase penduduk miskin beberapa provinsi diurutkan dari jumlah persentase tertinggi; sebagai perbandingan, provinsi atau kawasan dengan persentase relatif rendah penduduk miskin pun diberikan. Provinsi-provinsi yang jumlah penduduk miskinnya relatif tinggi mencakup Papua (40,78%); Irian Jaya Barat (39,31%);  Maluku (31,14%); NTT (27,51%); Gorontalo (27,35%); Naggroe Aceh Darussalam (26,65%); NTB (24,99%);  Sulawesi Tengah (22,42%); Lampung (22,19%); Bengkulu (22,13%); Sulawesi Tenggara (21,33%); dan Jawa Tengah (20,43%). Keenam provinsi dengan tingkat kemiskinan relatif rendah mencakup DKI Jakarta (4,1%); Bali (6.63%); Kalimantan Selatan (7,01%); Banten (9,07%); Kalimantan Tengah (9,38%); dan Bangka-Belitung (9,54%).

Untuk Maret 2008, BPS melaporkan bahwa sebanyak 15,42% atau 34.963.300 penduduk Indonesia tergolong penduduk miskin. Jelas, ada penurunan dalam jumlah dan persentase penduduk miskin dibanding statistik Maret 2007. Meskipun menurun dibanding statistik Maret 2007, persentase penduduk miskin masih menonjol pada tiga provinsi di Kawasan Timur Indonesia: Papua (37,08%); Irian Jaya Barat (35,12%); dan Maluku (29,66%). Sementara itu, tiga provinsi dengan persentase penduduk miskin yang relatif rendah menonjol pada DKI Jakarta (4,29%); Bali (6,17%); dan Kalimantan Selatan (6,48%).  Kecuali DKI Jakarta, tampak ada penurunan persentase tingkat penduduk miskin di Bali dan Kalimantan Selatan pada Maret 2008.

Pada bulan Maret 2009, BPS menyatakan penduduk miskin di Indonesia sebanyak 32.530.000 orang atau sebesar 14,15% dari total penduduk Indonesia. Jelas ada penurunan jumlah dan persentase penduduk miskin di Indonesia. Tapi tiga provinsi yang sama dengan dua tahun sebelumnya masih punya penduduk miskin yang menonjol pada Maret 2009: Papua (37,53%); Irian Jaya Barat (35,71%); dan Maluku (28,23%). Kecuali Maluku, persentase penduduk miskin di kedua provinsi lainnya naik. Sementara itu, tiga daerah yang persentase penduduk miskinnya rendah adalah DKI Jakarta (3,62%); Kalimantan Selatan (5,12&); dan Bali (5,13%). Dibanding statistik 2008, ada penurunan persentase untuk ketiga daerah ini; Kalimantan Selatan menggeser posisi Bali dengan selisih angka yang tipis.

Mengherankan bahwa Papua dan Irian Jaya Barat (sekarang Papua Barat) yang kaya sumber daya alami bisa berada di urutan paling bawah dari tingkat kemakmuran bangsa Indonesia. Ada hal-hal yang tidak beres dalam pengelolaan dan distribusi hasil kekayaan kedua provinsi itu kepada rakyatnya.

Doa Pemulihan bagi Bangsa Indonesia di Jakarta 23 Maret 2006 entah mencakup masalah kemiskinan dalam pokok-pokok doanya entah tidak. Kalau memang didoakan, apa hasilnya? Memang ada penurunan dalam persentase penduduk miskin di Indonesia; akan tetapi, kemiskinan tetap ada. Maka, doa pemulihan itu tidak manjur 100 persen. Kalau tidak didoakan, maka bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk miskin antara 2007 dan 2009, menurut statistik BPS, bergantung pada faktor-faktor di luar doa pemulihan itu. Pendek kata, kemiskinan sebagai suatu masalah utama di Indonsia masih ada.

Statistik tentang Bencana Alam 2004-2009

Terjadi 4.408 kali bencana alam dalam kurun 5 tahun terakhir (2004-2009). Ini menjadikan Indonesia salah satu negara paling rawan bencana di dunia. Statistik ini disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta 18 September 2010.

Menurut badan ini, bencana alam di Indonesia ditimbulkan oleh alam dan kerusakan alam oleh manusia. Yang pertama mencakup gempa bumi, letusan gunung berapi, angin topan, dan tsunami. Yang kedua mencakup banjir dan tanah longsor.

Lebih dari 4.400 bencana tadi mencakup bencana alam dan kerusakan alam. Di antaranya, gempa bumi (71 peristiwa), gempa bumi disertai tsunami (2 ), letusan gunung berapi (24), tanah longsor (469), banjir (1.916), banjir dan tanah longsor (1.083), angin topan (580), dan gelombang pasang (105).

Entah ikut didoakan entah tidak dalam Doa Pemulihan bagi Bangsa Indonesia 2006, statistik bencana alam tadi yang menjadikan Indonesia salah satu negara paling rawan bencana di dunia jelas menunjukkan tidak terjadi pemulihan bangsa Indonesia.

Tahun 2010
  • 31/5: Dua belas WNI relawan kemanusiaan untuk Gaza terdapat di kapal Mavi Marmara dari Turki yang diserang tentara Israel di lepas pantai Gaza.
  • 12/8: Pungky Indarti, Managing Director Imparsial, mengatakan 85% ancaman terhadap pertahanan Indonesia datang dari teroris dan separatis dalam negeri.
  • 4/10: Banjir bandang setinggi 3 meter meluluhlantakkan 80% Wasior, ibu kota Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Ratusan rumah dan fasilitas kota rusak parah. Sampai dengan 22 Oktober, 162 orang dinyatakan tewas, ribuan orang mengungsi.
  • 5/10: Presiden SBY secara mendadak membatalkan kunjungan resminya ke Belanda karena tuntutan penangkapan dirinya oleh Pemerintah RMS dalam pengasingan di Belanda.
  • 21/10: Sebuah video berdurasi 4 menit 47 detik yang beredar sejak 16 Oktober di YouTube menggambarkan penganiayaan yang dilakukan oleh militer Indonesia atas sejumlah warga Papua, yang dituduh terlibat Organisasi Papua Merdeka, di Tingginambut, Puncak Jaya, Papua. Penganiayaan itu mendapat kecaman dari berbagai pihak.
Seleksi dari beberapa masalah utama 2o1o mencakup empat pokok. Pertama, masalah politik (peranan internasional Indonesia di Gaza, pembatalan kunjungan SBY ke Belanda); kedua, masalah disintegrasi bangsa ( gerakan separatis RMS dan OPM); ketiga, masalah kekerasan militer (penganiayaan di Puncak Jaya); dan, keempat, masalah bencana alam (banjir bandang di Wasior).

Kalau statistik tentang ancaman terhadap disintegrasi bangsa menurut Imparsial tadi dipertimbangkan, Indonesia menghadapi ancaman dari dalam negeri terhadap stabilitasnya. Bisa dibayangkan akibatnya kalau ada kekuatan-kekuatan asing ikut memperkuat ancaman ini.

Tidak Terjadi Pemulihan Bangsa

Entah didoakan entah tidak, keempat masalah utama tadi tetap terjadi. Tidak terjadi pemulihan bangsa.

Selain itu, berbagai masalah utama yang sudah diperjelas melalui berbagai rincian itu kita coba pahami melalui tujuan Doa Pemulihan bagi Bangsa Indonesia. Berkat (yaitu, pertolongan dan restu Allah, perbuatan religius) apakah yang sudah diterima Indonesia kalau bangsanya sudah mengalami pemulihan? Apakah bangsa Indonesia sudah memberi berkat bagi bangsa-bangsa lain?

Tidak gampang menjawab kedua pertanyaan tadi. Alat untuk mengukur ada-tidaknya, banyak sedikitnya berkat bagi Indonesia dan bangsa-bangsa lain tidak ada. Kita sudah tahu bahwa bangsa Indonesia belum mengalami pemulihan secara tuntas; jadi, doa pemulihan tadi tidak mancur 100 persen. Tentang berkat mana yang sudah diterima Indonesia dan berkat mana yang diberikan kepada bangsa-bangsa lain, kita tidak punya data.

Kesulitan ini diperberat dengan jumlah total penduduk Indonesia dan masalah yang dihadapi setiap warganya. Ada lebih dari 200 juta orang Indonesia masa kini, mayoritas penganut Muslim; karena itu, ada lebih dari 200 juta masalah yang mereka hadapi. Ditambah dengan masalah-masalah multidimensional yang sudah diuraikan tadi, menjadi persoalan apakah Doa Pemulihan bagi Bangsa Indonesia bisa memecahkan semua masalah yang rumit itu dalam suatu seminar selama beberapa jam di Jakarta 23 Maret 2006. Berlanjutnya berbagai masalah utama sesudah seminar itu ditambah masalah-masalah setiap warga Indonesia  menunjukkan bahwa kuasa pemulihan bagi bangsa melalui doa-doa orang Kristen dalam seminar itu tidak menghasilkan dampak apa pun.
 
Bagaimana kalau yang punya kuasa pemulihan bagi bangsa Indonesia adalah Benny Hinn sendiri? Di Nigeria dan Trinidad-Tobago, Benny yang menyelenggarakan KKR dan doa pemulihan bagi bangsa kedua negara itu tidak menghasilkan apa pun yang nyata. Karena itu, dia dipastikan tidak akan mengubah apa pun di Indonesia melalui doa pemulihan bagi bangsa Indonesia.

XXV. Mempertanyakan Doa Pemulihan bagi Bangsa Benny Hinn (1)

Doa pemulihan bagi bangsa adalah acara lain dari KKR Benny Hinn di berbagai negara. Termasuk di Indonesia, Tobago-Trinidad, dan Nigeria.

Apa yang dia maksudkan dengan “doa pemulihan bagi bangsa”? Apa yang terjadi pada bangsa-bangsa yang didoakan sebelum dan sesudah doa pemulihan bagi bangsa ala Benny Hinn? Apakah Hinn memang punya kuasa ilahi demikian hebatnya sehingga dengan doa saja dia dan mereka yang terlibat di dalam doanya bisa menyembuhkan bangsa Indonesia, Tobago-Trinidad, dan Nigeria? 

Doa Pemulihan bagi Bangsa

Kata “doa” menurut arti umumnya adalah pesan yang disampaikan kepada Allah, entah diucapkan entah tidak. Doa bisa bersifat pribadi, atas nama hadirin (disampaikan oleh rohaniwan), atau disampaikan hadirin (seperti “Doa Bapa Kami” dalam ibadah Kristen).

Kata “pemulihan” adalah suatu proses menyembuhkan seorang atau sesuatu atau suatu proses menjadi sehat. Singkat kata, pemulihan berarti suatu proses menyembuhkan atau menjadi sehat. Proses atau keadaan menjadi adalah suatu kata kunci dari arti “pemulihan”.

Ada sekurang-kurangnya dua definisi tentang “bangsa”. Khususnya, untuk Indonesia, salah satu definisi ini kurang pas dengan kenyataan. Menurut definisi kamus yang kurang cocok tadi dengan fakta di Indonesia, “bangsa” adalah orang dari etnisitas yang sama: suatu komunitas orang-orang yang berbagi suatu asal-usul etnik, kebudayaan, tradisi, sejarah, dan, sering, bahasa yang sama, tidak peduli apakah mereka tinggal sama-sama di satu kawasan atau punya pemerintahannya sendiri atau tidak. Bangsa Indonesia terdiri dari bermacam-macam kelompok etnik dengan bahasa daerah, sejarah, tradisi, dan kebudayaan yang berbeda-beda; karena itu, definisi ini tidak begitu cocok untuk kita. Definisi kedua yang cocok dengan bangsa Indonesia mengatakan bangsa adalah orang di tanah (-air) di bawah satu pemerintahan: suatu komunitas orang-orang atau bangsa-bangsa yang tinggal di suatu kawasan tertentu dan diatur oleh suatu pemerintahan tunggal.  Komponen yang membentuk bangsa menurut definisi kedua mencakup orang-orang/bangsa-bangsa, kawasan tertentu, dan pemerintahan tunggal.

Ketika Benny Hinn dan kelompok doanya mengatakan mereka mengadakan “doa pemulihan bagi bangsa”, apa yang kita pahami dari frasa ini? Mereka menyampaikan pesan kepada Allah agar terjadi proses menyembuhkan atau menjadi sehat orang-orang di Indonesia yang diatur oleh suatu pemerintahan tunggal: pemerintahan SBY. Penjelasan ini berlaku juga menurut konteks sejarah bangsa Tobago-Trinidad, bangsa Nigeria, dan bangsa-bangsa lain yang juga menjadi “obyek” doa pemulihan bagi bangsa Benny Hinn dan pendukungnya.

Isi dan Tujuan Doa Pemulihan bagi Bangsa

Menjelang KKR Benny Hinn di Ancol, Jakarta Utara, Maret 2006, sekitar 8.000 orang Kristen (dari berbagai denominasi) dari seluruh Indonesia mengikuti Seminar “Doa Pemulihan bagi Bangsa” di Hall A, B, C Pekan Raya Jakarta 23 Maret 2006. Seminar ini diikuti Pendeta Benny Hinn.

Lalu, apa isi doa pemulihan bagi bangsa Indonesia? Jawaban diberikan Pendeta Diana Iranata, Ketua Umum Panitia Seminar dan KKR Pemulihan bagi Bangsa Indonesia. Menurutnya, bangsa Indonesia menghadapi berbagai masalah, seperti masalah ekonomi, bencana alam, dan ancaman disintegrasi bangsa. Doa pemulihan bagi bangsa Indonesia, lanjutnya, adalah “pernyataan iman” umat Kristen bahwa “di dalam doa pasti terjadi pemulihan bangsa Indonesia.” Tujuan doa pemulihan bagi bangsa, lanjutnya, adalah agar “bangsa Indonesia kembali menjadi bangsa yang diberkati dan memberkati bangsa-bangsa lain.”

Pendeta Daniel Supangat, seorang anggota panitia tadi, menambahkan alasan lain untuk doa pemulihan bagi Indonesia diadakan. Selama “tahun-tahun terakhir” bangsa Indonesia “mengalami krisis multidimensional.” Tapi dia tidak merinci apa yang dia maksudkan dengan “krisis multidimensional.”

Kata “krisis” sendiri mengagetkan kita kalau yang kita pahami dari kata ini adalah waktu yang berbahaya atau menguatirkan, saat yang gawat. O, ya? Sebelum Benny Hinn datang dan sebelum seminar tadi diselenggarakan, bangsa Indonesia sudah mengalami saat-saat yang gawat, waktu yang berbahaya atau menguatirkan? Separah apakah krisis multidimensional itu?

Sesuai arti tadi, krisis yang Indonesia alami dalam sejarahnya boleh dibilang jarang terjadi. Beberapa di antaranya mencakup G-30 S 1965, krisis moneter-ekonomi 1997-1998, dan tsunami Aceh 2004.

Jadi, apa masalah-masalah di Indonesia yang mendorong diadakannya doa pemulihan bagi bangsa Indonesia di Pekan Raya Jakarta 23 Maret 2006 dan untuk apa doa itu? Bangsa Indonesia mengalami krisis multidimensional, mengalami berbagai masalah, seperti masalah ekonomi, bencana alam, dan ancaman disintegrasi bangsa. Tujuan doa pemulihan bagi bangsa Indonesia? Agar bangsa ini kembali menjadi bangsa yang diberkati dan memberkati bangsa-bangsa lain.

Manjurkah Doa Pemulihan bagi Bangsa Indonesia?

Untuk menilai apakah alasan dan tujuan doa pemulihan bagi Indonesia tadi manjur atau tidak, kita dihadapkan pada kesulitan memakai alat-alat yang secara konsisten dan obyektif  bisa mengukur sukses gagalnya doa macam ini.  Alat-alat itu tidak ada.

Jadi, apakah ada cara lain untuk menguji apakah doa pemulihan bagi Indonesia berhasil atau gagal? Fakta sejarah tentang masalah-masalah besar yang terjadi pada bangsa Indonesia menjelang, selama, dan sesudah doa pemulihan bagi bangsa Indonesia 23 Maret 2006 disusul KKR Benny Hinn di Ancol, Jakarta Utara, 24-26 Maret 2006 barangkali bisa menolong kita menilai apakah doa itu sudah manjur atau tidak.

Tapi cara ini pun sulit diandalkan. Bagaimana kita bisa memastikan kejadian yang satu adalah buah doa pemulihan bagi bangsa Indonesia dan kejadian yang lain tidak? Apa ukurannya? Kalau masalah yang dihadapi Indonesia rumit, multidimensional, tentu daftar masalah yang kita buat bisa mencakup, katakanlah,  ribuan butir, di antaranya lima ratus butir masalah utama.  Kalau ada lima ratus butir masalah utama yang harus didoakan demi pulihnya bangsa Indonesia sementara doa pemulihan bagi bangsa Indonesia hanya tiga menit atau tiga jam, apakah kelima ratus butir masalah utama itu bisa selesai didoakan dalam waktu antara tiga menit dan tiga jam? Lalu, apa jaminannya bahwa Allah mengabulkan doa untuk masing-masing dari ke lima ratus masalah utama itu? Bagaimana kita tahu Allah sudah atau tidak/belum mengabulkan doa pemulihan bagi bangsa Indonesia Tidak gampang menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, bukan?

Kesulitan ini ditambah cara lain lagi untuk menilai apakah tujuan doa pemulihan bagi bangsa Indonesia sudah dicapai atau belum. Sekali lagi, apa patokannya untuk menetapkan Indonesia kembali menjadi bangsa yang diberati dan memberkati bangsa-bangsa lain?

Dua sumber data historis tahun 2006 bisa memerikan penjelasan tadi. Yang satu tentang penerbitan versi Indonesia dari majalah Playboy asal Amerika Serikat. Yang kedua tentang statistik kasus kejahatan di lingkungan Polda Metro Jaya antara Januari-Desember 2006, 2007, 2008, dan 2009. Waktu data ini dicatat menjelang, selama, dan sesudah doa pemulihan bagi bangsa tadi.

Kontroversi penerbitan Playboy

Majalah Playboy versi Indonesia mulai beredar 7 April 2006 walaupun ditentang berbagai pihak. Pada tanggal 12 April 2006, gedung kantor redaksi Playboy Indonesia di Jakarta dilempar batu saat Front Pembela Islam (FPI) berunjuk rasa menuntut penutupan majalah tersebut.

Orang Kristen yang sejati dipastikan tidak akan membeli majalah tersebut karena bertentangan dengan imannya. Karena itu, tuntutan FPI supaya majalah tersebut tidak diterbitkan di Indonesia bisa saja direstui (secara diam-diam) oleh orang Kristen tadi meskipun mereka barangkali tidak menyetujui cara FPI mengungkapkan sikapnya.

Apakah keinginan supaya majalah Playboy dilarang beredar di Indonesia suatu hasil Doa Pemulihan bagi Bangsa Indonesia di Jakarta 23 Maret 2006 dikabulkan? Bagaimana kita tahu Tuhan mengabulkan doa pemulihan itu?

Statistik kasus kejahatan di Jakarta 2006-2009

Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya, Jakarta, membeberkan statistik kasus kejahatan di lingkungannya dari Januari sampai dengan Desember 2006. Jumlah total jenis kejahatan yang dilakukan selama 2006 sebanyak 54.382 kasus. Di atas kertas, ini berarti setiap bulan terjadi sekitar 4.531 jenis kejahatan; setiap hari (dihitung sebagai 30 hari)  sekitar 151 jenis kejahatan.

Jenis-jenis kejahatan apakah yang paling banyak  dilakukan di Jakarta selama 2006?  Ada sepuluh jenis kejahatan yang menonjol tahun ini. Urutan dan penafsirannya demikian:
  1. Lain-lain (di luar jenis-jenis kejahatan lain): 11.962 kasus (sekitar 997  per bulan, 33 per hari)
  2. Pencurian kendaraan bermotor: 10.791 kasus (sekitar 899 per bulan, 30 per hari)
  3. Penipuan: 8.130 kasus (sekitar 678 per bulan, 23 per hari)
  4. Pencurian dengan pemberatan: 7.571 kasus (sekitar 648 per bulan, 22 per hari)
  5. Penggelapan: 3.762 kasus (sekitar 314 per bulan, 10 per hari)
  6. Penganiayaan berat: 2.649 kasus (sekitar 221 per bulan, 7 per hari)
  7. Pencurian dengan kekerasan: 2.032 kasus (169 per bulan, 5 per hari)
  8. Unjuk rasa: 1.296 kasus (108 per bulan, sekitar 4 per hari)
  9. Pemerasan/pengancaman: 1.236 kasus (103 per bulan, sekitar 3 per hari)
  10. Perjudian: 1.191 kasus ( sekitar 99 per bulan, 3 per hari)
Pada tahun 2007, jumlah total kasus kejahatan di lingkungan kepolisian Metro Jaya  sebanyak 54.484 kasus, naik setinggi 1.102 kasus dibanding  jumlah total kasus tahun 2006. Ini berarti ada sekitar 4.540 kasus kejahatan setiap bulan atau 151 kasus kejahatan setiap hari.

Pada tahun 2008, jumlah total kasus kejahatan di lingkungan Polda Metro Jaya sebanyak 40.214, menurun sebanyak 14.270 kasus dibanding jumlah total kasus kejahatan tahun sebelumnya. Tapi dibanding kasus jenis kejahatan selama 2006-2008, jumlah total jenis kejahatan untuk tahun 2009 paling kecil: 687 kasus atau sekitar 57 kasus per bulan atau 1,9 kasus per hari.

Kalau kasus-kasus jenis kejahatan di lingkungan Polda Metro Jaya antara 2006 dan 2009 adalah suatu  bagian dari Doa Pemulihan bagi Bangsa Indonesia 23 Maret 2006, kita sulit mengatakan pemulihan benar-benar terjadi. Jenis-jenis kejahatan menurut statistik itu, termasuk kesepuluh besar tahun 2006, masih ada. Terjadi kenaikan kasus jenis kejahatan tahun 2007, penurunan cukup berarti tahun 2008, dan penurunan signifikan tahun 2009. Apakah doa pemulihan tadi tidak dikabulkan untuk tahun 2007 tapi dikabulkan, khususnya, untuk tahun 2009?

Apa pun jawabannya, kasus jenis kejahatan menurut statistik Polda Metro Jaya tadi tetap ada. Pemulihan, menurut arti umum dari kata itu, belum menjadi nyata.

Mana yang Dikabulkan atau Ditolak Allah?

Seleksi yang diringkaskan dari berbagai fakta sejarah menjelang, selama, dan sesudah seminar doa pemulihan bagi bangsa Indonesia disusul KKR Benny Hinn di Ancol bisa memerikan masalah-masalah utama atau penting yang dihadapi bangsa Indonesia. Ada yang muncul dengan berbagai akibatnya, ada yang berhasil dipecahkan. Masalah-masalah utama ini mencakup masalah ekonomi,  bencana alam, politik, pemerintahan, perbankan, terorisme, separatisme, kriminalitas, dan lain-lain. Masalah-masalah utama  yang diseleksi ini dibatasi pada kurun 2004-2010. Lanjutannya pada bab berikut.